Rabu, 20 Oktober 2010

wanita



Benar, Seperti janji Allah SWT,
“Wanita yang keji adalah untuklaki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanitayang keji (pula), dan wanita-wanit yang baik adalah untuk laki-laki yangbaik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik(pula). (An-Nur:26).

WANITA

” Wanita itu ibarat buku yang dijual di toko buku. ” Kata Ukhti Liana,mentor rohaniku ketika SMA.


Ia melanjutkan ceritanya “Begini asosiasinya. . di suatu toko buku,banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat buku. Tiap pengunjungmemiliki kesukaan yang berbeda-beda. Karena itulah para pengunjungtersebar merata di seluruh sudut ruangan toko buku. Ia akan tertarikuntuk membeli buku apabila ia rasa buku itu bagus, sekalipun ia hanyamembaca sinopsis ataupun referensi buku tersebut. Bagi pengunjung yangberjiwa pembeli sejati, maka buku tersebut akan ia beli. Tentu iamemilih buku yang bersampul, karena masih baru dan terjaga. Transaksi dikasirpun segera terjadi. “


“iya, terus kak..?” kataku dan teman-teman, dibuat penasaran olehnya.
“Nah, bagi pengunjung yang tidak berjiwa pembeli sejati, maka buku yangia rasa menarik, bukannya ia beli, justru ia mencari buku dengan judulsama tapi yang tidak bersampul. Kenapa? Kerena untuk ia dibaca saat itujuga. Akibatnya, buku itu ada yang terlipat, kusam, ternoda olehcoretan, sobek, baik sedikit ataupun banyak. Bisa jadi buku yang tidaktersampul itu dibaca tidak oleh seorang saja. Tapi mungkin berkali-kali,dengan pengunjung yang berbeda tetapi berjiwa sama, yaitu bukan pembelisejati alias pengunjung iseng yang tidak bertanggung jawab. Lamakelamaan, kasianlah buku itu, makin kusam hingga banyak yang engganuntuk membelinya” Cerita ukhti Liana.


“Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan jilbab, maka ituadalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Lebih-lebih kalau jilbab itu takhanya untuk tampilannya saja, tapi juga menjilbabkan hati.. Subhanallah. .!


Pengunjung yang membeli adalah ibarat suami, laki-laki yang telah Allahsiapkan untuk mendampinginya menggenapkan ½ dienNya. Dengan gagah berani dan tanggung jawab yang tinggi, ia bersedia membeli buku itu dengantransaksi di kasir yang diibaratkan pernikahan.
Bedanya, Pengunjung yang iseng, yang tidak berniat membeli, ibarat laki-laki yang kalau zaman sekarang bisa dikatakan suka pacaran. Menguak-nguak kepribadian dan kehidupan sang wanita hingga terkadang membuatnya tersakiti, merintih dengan tangisan, hingga yang paling fatal adalah ternodai dengan free-sex.


Padahal tidak semua toko buku berani menjual buku-bukunyadengan fasilitas buku tersampul. Maka, tentulah toko buku itu adalahtoko buku pilihan. Ia ibarat lingkungan, yang jika lingkungan itu baikmaka baik pula apa-apa yang ada didalamnya. ” kata ukhti Liana.


“wah, kalau begitu jadi wanita harus hati-hati ya..!. ” celetuk salahsatu temanku.
“Hmm, .apakah apapun di dunia ini bakal dapet yang seimbang ya, kak?Kayak itu deh, buku yang tersampul dibeli oleh pembeli yang bertanggungjawab. Itukan perumpamaan Wanita yang baik dan terjaga akhlaknya jugadapat laki-laki yang baik, bahkan insyallah mapan, sholeh, pokoknya yangbaik-baik juga. Gitu ya, kak?” kata temanku.


Benar, Seperti janji Allah SWT,
“Wanita yang keji adalah untuklaki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanitayang keji (pula), dan wanita-wanit yang baik adalah untuk laki-laki yangbaik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik(pula). (An-Nur:26).
Dan, hanya Allah yang tak menyalahi janji. “penjelasan ukhti Liana.
***
Empat tahun berselang.. diskusi itu masih mengena dihatiku. Hingga padasuatu malam, pada suatu muhasabah menyambut usia yang bertambah, “Pff,Ya Allah… Tahu begini, Aku malu jadi wanita. ” bisikku.
Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang sementara. Tapi amanahsepanjang usia ini ada. Pun menjadi wanita baik itu tak mudah. Butuhiman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman.
Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang memilihnya, tapiKau yang memilihkannya untukku. Aku tahu, Allah penggenggam segala ilmu.Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan khusus, hinggaakhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikanku wanita. Aku sadar, tidakmain-main Allah mengamanahkan ini padaku. Karena kutahu, wanita adalahmakhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa terlahir manusiasemulia Rasulullah atau manusia sehina Fir’aun.
Kalau banyak orang lain merasa bangga menjadi wanita, karena wanitalayak dipuja, karena wanita cantik memesona, karena wanita bisa dibelidengan harta, karena wanita cukup menggoda, dan lain sebagainya, makajustru sebaliknya, dengan lantang aku berkata.. “aku malu menjadi wanita!”
Ya, Aku malu menjadi wanita, kalau faktanya wanita itu gampangdiiming-iminggi harta dengan mengorbankan harga dirinya. Aku malumenjadi wanita kalau ternyata wanita itu sebagai sumber maksiat,memikat, hingga mengajak pada jalan sesat. Aku malu menjadi wanita kalauternyata dari pandangan dan suara wanita yang tak terjaga sanggupmemunculkan syahwat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata tindaktanduk wanita sanggup membuahkan angan-angan bagi pria. Aku malu menjadiwanita kalau ternyata wanita tak sanggup jadi ibu yang bijak bagianaknya dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya.
Sungguh, aku malu menjadi wanita yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Ya,Aku malu jika sekarang aku belum menjadi sosok wanita yang seperti Allahharapkan. Aku malu, karena itu pertanda aku belum amanah terhadaptitipan Allah ini. Entahlah, dalam waktu 19 tahun ini aku sudah menjadiwanita macam apa. Aku malu.. Bahkan malu ini berbuah ketakutan,kalau-kalau pada hari akhir nanti tak ada daya bagiku untukmempertanggungjawab kan ini semua.
Padahal, setahuku dari Bunda Khadijah, Aisyah dan Fatimah, wanita itumakhluk yang luar biasa, penerus kehidupan. Dari kelembutan hatinya, iasanggup menguak gelapnya dunia, menyinari dengan cinta. Darikesholehannya akhlaknya, ia sanggup menjaga dunia dari generasi-generasihina dengan mengajarkannya ilmu dan agama. Dari kesabaran pekertinya, iasanggup mewarnai kehidupan dunia, hingga perjuangan itu terus ada.
Allah, maafkan aku akan kedangkalan ilmuku dan rendahnya tekadku. Akuberlindung pada-Mu dari diriku sendiri. Bantu aku Rabb, untuk tak lagimenghadirkan kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di dunia-Mu. Hinggakelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan akhlak yang kuusahakan. Ya,wanita sholehah"
Aku Hanya Ingin setia
Aku tak mampu menyakiti mu
aku tak sanggup untuk menduakanmu.....

Kesempatan Pertama

Pertama sekali dia sangat takut. Entah kenapa.??? dia pun takut mengapa dia harus takut untuk melakukan hal tersebut. Padahal itu semua demi masa depannya, supaya ia bisa hidup mandiri, selain itu faktor dari keluarga mungkin turut andil dalam peristiwa ini.