Rabu, 03 November 2010

Sejarah islam


SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.

Rabu, 20 Oktober 2010

wanita



Benar, Seperti janji Allah SWT,
“Wanita yang keji adalah untuklaki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanitayang keji (pula), dan wanita-wanit yang baik adalah untuk laki-laki yangbaik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik(pula). (An-Nur:26).

WANITA

” Wanita itu ibarat buku yang dijual di toko buku. ” Kata Ukhti Liana,mentor rohaniku ketika SMA.


Ia melanjutkan ceritanya “Begini asosiasinya. . di suatu toko buku,banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat buku. Tiap pengunjungmemiliki kesukaan yang berbeda-beda. Karena itulah para pengunjungtersebar merata di seluruh sudut ruangan toko buku. Ia akan tertarikuntuk membeli buku apabila ia rasa buku itu bagus, sekalipun ia hanyamembaca sinopsis ataupun referensi buku tersebut. Bagi pengunjung yangberjiwa pembeli sejati, maka buku tersebut akan ia beli. Tentu iamemilih buku yang bersampul, karena masih baru dan terjaga. Transaksi dikasirpun segera terjadi. “


“iya, terus kak..?” kataku dan teman-teman, dibuat penasaran olehnya.
“Nah, bagi pengunjung yang tidak berjiwa pembeli sejati, maka buku yangia rasa menarik, bukannya ia beli, justru ia mencari buku dengan judulsama tapi yang tidak bersampul. Kenapa? Kerena untuk ia dibaca saat itujuga. Akibatnya, buku itu ada yang terlipat, kusam, ternoda olehcoretan, sobek, baik sedikit ataupun banyak. Bisa jadi buku yang tidaktersampul itu dibaca tidak oleh seorang saja. Tapi mungkin berkali-kali,dengan pengunjung yang berbeda tetapi berjiwa sama, yaitu bukan pembelisejati alias pengunjung iseng yang tidak bertanggung jawab. Lamakelamaan, kasianlah buku itu, makin kusam hingga banyak yang engganuntuk membelinya” Cerita ukhti Liana.


“Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan jilbab, maka ituadalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Lebih-lebih kalau jilbab itu takhanya untuk tampilannya saja, tapi juga menjilbabkan hati.. Subhanallah. .!


Pengunjung yang membeli adalah ibarat suami, laki-laki yang telah Allahsiapkan untuk mendampinginya menggenapkan ½ dienNya. Dengan gagah berani dan tanggung jawab yang tinggi, ia bersedia membeli buku itu dengantransaksi di kasir yang diibaratkan pernikahan.
Bedanya, Pengunjung yang iseng, yang tidak berniat membeli, ibarat laki-laki yang kalau zaman sekarang bisa dikatakan suka pacaran. Menguak-nguak kepribadian dan kehidupan sang wanita hingga terkadang membuatnya tersakiti, merintih dengan tangisan, hingga yang paling fatal adalah ternodai dengan free-sex.


Padahal tidak semua toko buku berani menjual buku-bukunyadengan fasilitas buku tersampul. Maka, tentulah toko buku itu adalahtoko buku pilihan. Ia ibarat lingkungan, yang jika lingkungan itu baikmaka baik pula apa-apa yang ada didalamnya. ” kata ukhti Liana.


“wah, kalau begitu jadi wanita harus hati-hati ya..!. ” celetuk salahsatu temanku.
“Hmm, .apakah apapun di dunia ini bakal dapet yang seimbang ya, kak?Kayak itu deh, buku yang tersampul dibeli oleh pembeli yang bertanggungjawab. Itukan perumpamaan Wanita yang baik dan terjaga akhlaknya jugadapat laki-laki yang baik, bahkan insyallah mapan, sholeh, pokoknya yangbaik-baik juga. Gitu ya, kak?” kata temanku.


Benar, Seperti janji Allah SWT,
“Wanita yang keji adalah untuklaki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanitayang keji (pula), dan wanita-wanit yang baik adalah untuk laki-laki yangbaik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik(pula). (An-Nur:26).
Dan, hanya Allah yang tak menyalahi janji. “penjelasan ukhti Liana.
***
Empat tahun berselang.. diskusi itu masih mengena dihatiku. Hingga padasuatu malam, pada suatu muhasabah menyambut usia yang bertambah, “Pff,Ya Allah… Tahu begini, Aku malu jadi wanita. ” bisikku.
Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang sementara. Tapi amanahsepanjang usia ini ada. Pun menjadi wanita baik itu tak mudah. Butuhiman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman.
Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang memilihnya, tapiKau yang memilihkannya untukku. Aku tahu, Allah penggenggam segala ilmu.Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan khusus, hinggaakhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikanku wanita. Aku sadar, tidakmain-main Allah mengamanahkan ini padaku. Karena kutahu, wanita adalahmakhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa terlahir manusiasemulia Rasulullah atau manusia sehina Fir’aun.
Kalau banyak orang lain merasa bangga menjadi wanita, karena wanitalayak dipuja, karena wanita cantik memesona, karena wanita bisa dibelidengan harta, karena wanita cukup menggoda, dan lain sebagainya, makajustru sebaliknya, dengan lantang aku berkata.. “aku malu menjadi wanita!”
Ya, Aku malu menjadi wanita, kalau faktanya wanita itu gampangdiiming-iminggi harta dengan mengorbankan harga dirinya. Aku malumenjadi wanita kalau ternyata wanita itu sebagai sumber maksiat,memikat, hingga mengajak pada jalan sesat. Aku malu menjadi wanita kalauternyata dari pandangan dan suara wanita yang tak terjaga sanggupmemunculkan syahwat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata tindaktanduk wanita sanggup membuahkan angan-angan bagi pria. Aku malu menjadiwanita kalau ternyata wanita tak sanggup jadi ibu yang bijak bagianaknya dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya.
Sungguh, aku malu menjadi wanita yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Ya,Aku malu jika sekarang aku belum menjadi sosok wanita yang seperti Allahharapkan. Aku malu, karena itu pertanda aku belum amanah terhadaptitipan Allah ini. Entahlah, dalam waktu 19 tahun ini aku sudah menjadiwanita macam apa. Aku malu.. Bahkan malu ini berbuah ketakutan,kalau-kalau pada hari akhir nanti tak ada daya bagiku untukmempertanggungjawab kan ini semua.
Padahal, setahuku dari Bunda Khadijah, Aisyah dan Fatimah, wanita itumakhluk yang luar biasa, penerus kehidupan. Dari kelembutan hatinya, iasanggup menguak gelapnya dunia, menyinari dengan cinta. Darikesholehannya akhlaknya, ia sanggup menjaga dunia dari generasi-generasihina dengan mengajarkannya ilmu dan agama. Dari kesabaran pekertinya, iasanggup mewarnai kehidupan dunia, hingga perjuangan itu terus ada.
Allah, maafkan aku akan kedangkalan ilmuku dan rendahnya tekadku. Akuberlindung pada-Mu dari diriku sendiri. Bantu aku Rabb, untuk tak lagimenghadirkan kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di dunia-Mu. Hinggakelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan akhlak yang kuusahakan. Ya,wanita sholehah"
Aku Hanya Ingin setia
Aku tak mampu menyakiti mu
aku tak sanggup untuk menduakanmu.....

Kesempatan Pertama

Pertama sekali dia sangat takut. Entah kenapa.??? dia pun takut mengapa dia harus takut untuk melakukan hal tersebut. Padahal itu semua demi masa depannya, supaya ia bisa hidup mandiri, selain itu faktor dari keluarga mungkin turut andil dalam peristiwa ini.

Rabu, 27 Januari 2010

kau di abek cam tu

kau abek cam tu rep....dak sonang kau nengok den d...haaaa??????


ireeepppp apooooo......

Kamis, 21 Januari 2010

Bagaimana supaya hari ngaaaaak panaaazzz





keringaT Q berCucraN >>>> knPa YacH.... DuNia To PnZ BgT Kek Gne.....


itu Nma'a Ilegal LoGiNg.... Ek SalaH


PmNsan GloBal AliAz GloBal WarmIng......




By: DeChy "dDm">))));>